Novel “Rindu Kami PadaMu” diangkat dari skenario film “Rindu Kami PadaMu” karya Garin Nugroho dan Armontoro yang berkisah tentang pencarian cinta tiga anak manusia. Gagasannya dibangun atas dasar kesadaran bahwa religiusitas sebenarnya selalu tampil dalam soal sehari – hari dan remeh – remeh yang meneyentuh lubuk hati. Religiusitas bukan berlangsung di tempat ibadah, tetapi dalam de…
Melalui novel ini, Yanusa melakukan lelono yang agak memiriskan; dia mencoba mengoyak-ngoyak “hutan kesucian” para Pandawa. Dia mengacak-acak “sakralitas” pemahaman kekuasaan, dengan menggambarkan Prabu Yudhistira yang pada dunia wayang dilukiskan sebagai penguasa santun, jujur, tidak suka berbohong, manjadi sosok yang ternyata sudah “badar” dari laku asketisnya. Dalam novel ini,…
Novel ini bercerita tentang Hendrik, Astari, dan Satrijo. Hendrik adalah seorang seniman gagal yang kemudian menjadi pekerja kantoran yang frustrasi. Ia muak dengan kehidupannya sehari-hari yang habis digerogoti kemacetan, deadlines, dan rutinitas. Sebagai pribadi yang berminat kepada seni, ia kemudian tertarik menekuni lomografi. Ia lalu mendapat inspirasi untuk mengadakan 'Proyek Lomotions'…
“Kecil-kecil cabe rawit”, sebuah pepatah yang mungkin tidak terlalu berlebihan jika disematkan kepada buku ini. Bentuk fisik buku yang kecil dan tidak begitu tebal sungguh sangat berbanding terbalik dengan isi buku yang sangat mencerminkan kapasitas Heru Nugroho sebagai penulis dengan wawasan luas dan wacana yang kaya. Jika melihat judul, mungkin pembaca akan mengira bahwa buku ini berisi m…
Buku ini merupakan upaya melihat dinamika televisi dan komunikasi politik, serta prediksi-prediksi yang ditulis pasca 1998 hingga belum Pilpres Tahap kedua tahun 2004. Inilah era komunikasi politik di tengah masa transisi, yang penuh percepatan sejarah politik, percepatan indsutri budaya populer, maupun percepatan perubahan masyarakat itu sendiri.