"Jagad Warog Ponorogo ditelisik dengan tuntas lewat cara unik. Novel yang menarik dan sangat pantas dibaca" Ahmad Tohari, Sastrawan "Kearifan cinta, ombak sejarah dan politik saling bertemu dalam legenda. Sebuah novel yang menggugah rasa, mencerahkan jiwa merdeka!" Abidah El Khalieqy, Penulis cerita film Perempuan Berkalung Sorban "Batasan fakta dan fiksi menjadi sangat tipis, inilah no…
Sesungguhnya media massa yang menulis tak seimbang, bahkan membenarkan tindakan tak demokratis dan melecehkan hak asasi manusia, tak beda dengan para serdadu, bahkan lebih kejam. Anehnya mereka bangga menulis tentang Timor Timur dengan tinta darah ribuan martir bangsa Maubere itu. (Suara Independen, Peb 1996) Saya tanyakan kepada Xanana Gusmao mengapa Menlu Ali Alatas dan Mensesneg Moerdiono d…
Sepanjang hidupnya (1929-1999), Y.B. Mangunwijaya telah menulis tak kurang dari 11 novel dan satu kumpulan cerita pendek. Novel pertamanya adalah Romo Rahadi (1981) dan novel terakhirnya adalah Pohon-Pohon Sesawi (1999). Kumpulan cerita pendek satu-satunya, Rumah Bambu (2000), terbit setelah Romo Mangun meninggal. Satu-dua novel Romo Mangun memang telah pernah dibicarakan para pengamat dan k…
Manusia multi dimensi, Romo Mangun yang memberi diri berbakti dan melayani pada masyarakat, memandang setiap manusia dan benda semata-mata bukan sebagai apa yang terlihat, namun bagaimana mengangkat kehidupan yang lebih hidup, membumi namun menyeni dan membebaskan pelakunya. Tiap ulasan dalam buku ini membuka satu sisi dari pribadi Romo Mangun, bukan sebagai orang yang harus dianggungi namun se…
Dongeng-dongeng enteng-entengan ini dapat dipakai sebagai bahan cekakak-cekikik, melepas lelah sambil tiduran, teman di atas kendaraan, hadiah ulang tahun, disandiwarakan untuk anak-anak, dipilih yang lucu-lucu lalu dibaca waktu hajatan, atau sekedar membuang beban. Akan tetapi, bagi yang ingin sedikit repot, harap diketahui bahwa pengarang -sama seperti politisi, pedagang, atau guru- juga m…