Ada anggapan bahwa agama tidak mampu menggerakkan kehidupan ekonomi, lebih-lebih ekonomi kapitalis. Ini didasarkan pada pemikiran bahwa agama dan ekonomi adalah dua ranah yang memiliki titik sentral dan tujuan berbeda. Di antara keduanya, selamanya tidak akan pernah sejalan. Weber kemudian muncul dengan Die Protestan Ethik Under Giest Des Kapitalis (Etika Protestan dan Semangat Kapitalis), sebu…
Kebanyakan orang kehilangan atau melupakan pengalaman religius subjektif, dan mendefinisikan ulang agama sebagai seperangkat kebiasaan, perilaku, dogma, bentuk-bentuk, yang di titik ekstrem menjadi sepenuhnya legalistik dan birokratis, konvensional, kosong, dan dalam makna yang sesungguhnya, antireligius. Agama yang terlembagakan, akhirnya dapat menjadi musuh utama bagi pengalaman religius dan …
Filsafat Manusia merupakan perkenalan dengan filsafat pada umumnya, maka pembahasannya dalam buku ini dirumuskan dengan sederhana dan penjelasannya dekat dengan penghayatan yang direfleksikan. Secara singkat, keterangan tentang filsuf serta aliran filsafat yang beraneka ragam disertakan pula di dalamnya. Filsafat Manusia ini diharapkan dapat membantu pembaca untuk berfilsafat tidak hanya sekeda…
Kaum "bukan lelaki" sampai pada zaman modern ini, dipandang kurang bersuara (untuk tidak ekstrem menyebut membisu) dengan masih melekatnya mitos pernyataan masak-manak-macak atau sumur-dapur-kasur pada tubuhnya. Hal ini disebabkan oleh keberdayaan perempuan yang belum merata. Padahal, selain upaya-upaya pencegahan dan penanganan eksploitasi ketubuhan perempuan secara eksternal, dibutuhkan juga …
The Second Edition of Wittgenstein: Rules, Grammar and Necessity (the second volume of the landmark analytical commentary on Wittgenstein’s Philosophical Investigations) now includes extensively revised and supplemented coverage of the Wittgenstein's complex and controversial remarks on following rules. Includes thoroughly rewritten essays and the addition of one new essay on communita…
Peter Munz, a former student of both Popper and Wittgenstein, begins his comparison of the two great twentieth-century philosophers, by explaining that since the demise of positivism there have emerged, broadly speaking, two philosophical options: Wittgenstein, with the absolute relativism of his theory that meaning is a function of language games and that social configurations are determinants…