Banyak buku mengenai peristiwa '65 telah terbit dengan menyajikan berbagai macam sudut pandang. Buku ini menawarkan suatu metode penelitian sejarah yang disebut sebagai 'sejarah lisan'. Sejarah lisan bukanlah istilah yang akrab di telinga banyak orang Indonesia. Mungkin istilah itu malah dianggap aneh karena pemahaman umum mengenai sejarah adalah studi tentang masa lalu berdasarkan dokumen tert…
Sapiens menunjukkan dari mana asal kita. Homo Deus menunjukkan ke mana kita akan pergi. Pada masa lalu, manusia menaklukkan dunia berkat kemampuan uniknya untuk percaya pada mitos-mitos kolektif tentang dewa, uang, kesetaraan dan kebebasan—seperti dijelaskan dalam buku Sapiens. Dalam buku Homo Deus, Prof. Harari menelaah ke masa depan dan mengeksplorasi bagaimana kekuatan global bergese…
Buku ini akan membuat anda mengenal lebih dalam sosok yang satu ini bahkan anda bisa lebih memahami, menerima dan menghargai pribadi, karya dan kinerjanya. Melalui tulisan dari 18 penulis dengan berbagai latar belakang ini. anda akan banyak mengetahui sisilain Jokowi dari berbagai sudut padang, mulai dari aspek politik, sosial hingga ekonomi mulai dari hal serius sampai kekinian. Di tengah era…
In an innovative mix of history, anthropology, and post-colonial theory, Vicente L. Rafael examines the role of language in the religious conversion of the Tagalogs to Catholicism and their subsequent colonization during the early period (1580–1705) of Spanish rule in the Philippines. By tracing this history of communication between Spaniards and Tagalogs, Rafael maps the conditions that made…
Sebuah perjalanan getir dan pahit dari seorang anak bangsa. Setelah semuanya dipertaruhkan demi harkat bangsa, mulai dari dedikasi, pengabdian bahkan pengorbanan nyawa, tiba-tiba diseret ke panggung dunia. Dalam kesendirian, ia menjadi bisu dan tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya berkutat-kutit dalam kisahnya. Di bawah tekanan dan tundingan yang datang bertubi-tubi dari dalam dan luar neger…
"When we captured Kigali, we thought we would face criminals in the state; instead, we faced a criminal population." So a political commissar in the Rwanda Patriotic Front reflected after the 1994 massacre of as many as one million Tutsis in Rwanda. Underlying his statement was the realization that, though ordered by a minority of state functionaries, the slaughter was performed by hundreds of …