Kumpulan cerpen ini berisi sepuluh cerpen Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak antara tahun 1983 dan 1997 Seperti novel-novelnya, cerpen-cerpen Ahmad Tohari pun memiliki ciri khas. Tohari selalu mengangkat kehidupan "orang kecil" atau "kalangan bawah" dengan segala lika likunya Tohari memang sangat mengenal kehidupan orang-orang kecil dan kalangan bawah itu dengan baik. Oleh kar…
Ironis.Namun itulah yang terjadi pada Sobron Aidit, penulis buku ini, yang baru bisa berkunjung ke tanah air setelah menjadi warga negara lain. Kumpulan cerpen Razia Agustus ini bercerita tentang bagaimana rasanya menjadi seorang pelarian, melihat negeri kelahiran dari jauh, dan berjuan di negeri orang.
Dalam cerpen Lampor itu, sang penulis, Joni Ariadinata menceritakan secara detail kondisi lingkungan kumuh dengan mengeksplore semua kata yang benar-benar identik dengan kondisi seperti itu.
Antologi cerpen Kompas memang selalu pantas dibaca, demikian pula yang edisi 1999 ini. Bagaimana tidak? Ada 20 cerpen yang layak dibaca. Cerpenis Budi Darma dengan Derabatnya, Jujur Prananto dengan Nasib Pendengar Setia, Lembu Di Dasar Laut ala Afrizal Malna, Seno Gumira, Y.B. Mangunwijaya, dan masih banyak lagi. Dalam antologi ini, garis besar cerita yang ditampilkan hampir sama, maksudnya …
Kadang hidup dipercaya tak pernah benar-benar berakhir dengan kematian. Ia berputar seperti roda dengan karmanya yang tak bisa ditolak oleh manusia. Kadang seorang manusia terlahir menjadi anak nelayan, menitis menjadi penjudi, lalu menjelma seorang gigolo. Kadang berayah seorang nelayan, kadang beribu seorang pelacur. Sebuah rantai yang tak putus. Suatu lingkaran yang digugat oleh penulis kump…
Ada bahagia dan kepedihan dalam cinta. Cinta yang terpendam menimbulkan resah, pengkhianatan pun tak lepas dari cinta, atau bahkan cinta berlebihan sehingga menyesakkan. Galau dan rindu pun dituturkan dalam ribuan kata di buku ini. Autumn Once More membawa kita ke banyak sisi cinta dari kumpulan pengarang, mulai dari pengarang profesional hingga editor yang harus jadi pengarang “dadakan”…