Novel ini merupakan satu dari beberapa dokumen klasik yang penting pra-Indonesia dan merekam secara baik sepak terjang sejarah tanam paksa di teritori kolonial india pada tengahan abad 19 hingga menjelang peralihan abad 20, khususnya masyarakat gula di Jawa Tengah (Sukaraja)
Laya, seorang perempuan dari ibukota, untuk pertama kalinya memutuskan pulang ke kampung halaman yang tidak pernah ia kunjungi sekali pun. Ia memilih meninggalkan segala kenyamanannya di Jakarta demi tinggal di sebuah kampung terpencil, di ceruk Bukit Barisan. Alih-alih menjemput masa depan yang cerah di Jakarta, ia justru memilih menjemput babak baru hidupnya ke sebuah lembah yang asing.
"Jagad Warog Ponorogo ditelisik dengan tuntas lewat cara unik. Novel yang menarik dan sangat pantas dibaca" Ahmad Tohari, Sastrawan "Kearifan cinta, ombak sejarah dan politik saling bertemu dalam legenda. Sebuah novel yang menggugah rasa, mencerahkan jiwa merdeka!" Abidah El Khalieqy, Penulis cerita film Perempuan Berkalung Sorban "Batasan fakta dan fiksi menjadi sangat tipis, inilah no…
Aku selalu mengagumi rakyat jelata yang berjuang dan bertahan hidup di Jakarta dan menapaki masa depan yang tak pernah jelas. Daya tahan, resistensi mereka dalam meng-hadapi tekanan kehidupan yang menghimpit keras, setiap hari sangat mengagumkan. Ada kekuatan besar yang tak pernah terlihat di mata mereka, tersembunyi entah di bagian mana di dalam mata mereka. Mungkin di retina. Mungkin di korne…
Sebelum meninggal, Romo Mangun pernah bercerita bahwa ia sedang mengerjakan sebuah novel. Mungkin novel inilah yang dimaksud. Semula, naskah novel ini berupa berkas - berkas yang ditulis dengan mesin ketik, tercerai-berai, penuh coretan, sehingga tidak mudah di baca. Setelah di ketik ulang dan disunting seperlunya oleh orang - orang yang dekat dengan Romo Mangun, KPG ( Kepustakaan Gramedia Popu…
“Panglima-panglima medan perang, raja, serta adipati adalah jago-jago perang, pendekar dalam seni menyebar maut. Mungkin itu nasib lelaki. Tetapi kita kaum perempuan, Lusiku sayang, kita punya keunggulan lain: mengandung, menyusui, mengemban, dan memekarkan kehidupan. Rahim kita serba menerima. Tetapi juga serba memberi. Payudara perempuan adalah buah yang membanggakan kaum kita, Lusi. Sumbe…
Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan beragama. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas di tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan “si manis bergigi emas” dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto, bahkan d…